JUDUL NOVEL: "JANGKAR"
.: Daftar Isi :.
PROLOG
Bab 1: Kubikel
Bab 2: Cameo Lover
Bab 3: Bulan Merah Baru
Bab 4: Fashion Blogger
Bab 5: Majalah Life
Bab 6: Pria dan Kopi
Bab 7: Senja adalah Namamu
Bab 8: Designer Junk
Bab 9: Vanilla Cup
Bab 10: Ruang Kreatif
Bab 11: a Coffee Shop
Sabtu, 24 Desember 2016
Senin, 09 Januari 2012
Kuliah: Eksperimen Mimpi (page 6)
Setelah
membuat surat wasiat. Gue merasa aman. Setidaknya, gue punya alibi maha konyol
ketika gue ditanyain bokap nyokap perihal kelulusan gue di kampus ini. Ya, ya,
terdengar cukup keren.
“DORRR!”
sergap Okta dari belakang.
“Ehh,”
gue menoleh ke arahnya dengan tatapan nanar. Lamunan gue buyar.
“Loh,
kenapa muka elu Beng?! Ampun!” Okta menepuk jidatnya.
“Gue
takuutt,” muka gue setel memelas biar dia iba.
“Kenapa?
Mau ngadep pak Kajur ya?”
“Ho-oh”
kata gue mengangguk sambil memeluk berkas.
“Lah,
terus?”
“Gue
takut ditelen idup-idup”
“HAHAHAHHAHAHAHAHHAHAHA,”
Okta tertawa besar sampe-sampe seluruh oksigen kampus habis.
“HAHAHHAHA,”
lanjutnya lagi. “HAHAHAHAHAUHUUKKUHUUKK,” Dia ketawa sambil batuk-batuk.
Gue
diem. Gue kubur muka di pot-pot terdekat.
“Ehm.
Eh, mau ngadep beliau kan?” Tanya Okta serius setelah berhenti ketawa.
“Iya,
gue serius” gue udah pasang pose buat nangis ala sinetron.
“Enggak
apa-apa kok. Tenang aja, Beliau enggak serem kok. Nih, buktinya gue” katanya
Bangga menunjuk diri sendiri.
“Iya,
elu kenapa?”
“Gue
masih idup dan sehat-sehat aja kok. Barusan gue nemuin Beliau. Sono gih,
mumpung moodnya lagi bagus. Cepetan, entar
keburu berubah mood dia”
“Tapi
tadi pagi denger-denger, dia habis ngunyah mahasiswa baru gara-gara nanya
jadwal KRS HAHAHAHAAHA” ketawanya kembali menggelegar di lorong kampus. Gue
tutup muka pake berkas sambil *pura-pura pingsan*
Berharap
waktu diputar lebih cepat dan bisa melewati bagian ini. Seandainya ini film,
gue bakal skip bagian ketemu kajur. Ya, dengan alasan yang tidak bisa
dijelaskan. Intinya gue takut enggak lulus untuk pengajuan judul pertama.
Meski
takut gue harus lawan rasa takut gue, karena gue yakin keberanian adalah bagian
dari kecerdasan emosi yang stabil *itu sih, hasil baca gue minggu lalu entah
dari artikel apa hahhaa*
“Oke,
tarik napas. Hembuskan..” GUE SIAP!
***
Minggu, 08 Januari 2012
Kuliah: Eksperimen Mimpi (Page 5)
Secara
otak gue sudah diracuni kakak-kakak tingkat sebelumnya, kalo kajur kita ini
adalah dosen paling ditakuti dikampus. Orangnya moody, kalau mood nya
lagi baik dia bisa senyum dan bisa ngajak ngobrol dari hal-hal yang sederhana
sampe bahas tentang sejarah komputer sejak tahun jebot.
Nah, beda lagi kalo mood dia sedang jelek. Kata para senior
yang sudah bangkotan di kampus, muka kajur bakal ditekuk dan dilipet sedemikian
rupa. Apalagi kalo kita tetap nekat minta tanda tangannya untuk keperluan surat
menyurat kampus. Semua orang yang di
dekatnya bakal di telan hidup-hidup!
“Glek!”
Gue nelen ludah satu galon.
Sejak
racun itu menghantui gue. Ketika gue mau berhadapan langsung dengan kajur, semalam
suntuk gue membuat surat wasiat untuk menghindari beberapa hal yang tak
diinginkan.
Gue
membuat surat wasiat, kalo-kalo nasib gue bakal lebih buruk dari sebelumnya.
Dear siapapun yang membaca,
Entah nasib gue atau bukan, yang
jelas gue antisipasi dengan beberapa hal buruk di kemudian hari. Untuk itu, gue
membuat surat wasiat ini dengan kesadaran penuh dan dalam tempo yang
sesingkat-singkatnya.
Nama gue, SiBengal. Cukup panggil
gue Bengal atau Beng.
Dengan ini menyatakan wasiat,
jikalau gue enggak ada lagi di kampus tercinta ini. Itu artinya gue sudah
wisuda dengan penuh sukacita.
Dan jikalau gue masih tetap di kampus ini sampai
tahun kedelapan. Itu artinya gue ditelen idup-idup oleh kajur gue. Ditelen
terus dimuntahin lagi. Ditelen lagi terus dimuntahin *repeat 10x*
TTD,
With Love,
SiBengalLiar
Setelah
membuat surat wasiat. Gue merasa aman. Setidaknya, gue punya alibi maha konyol
ketika gue ditanyain bokap nyokap perihal kelulusan gue di kampus ini. Ya, ya,
terdengar cukup keren.
“DORRR!”
sergap Okta dari belakang
“Ehh,”
gue menoleh ke arahnya dengan tatapan nanar.
Kuliah: Eksperimen Mimpi (Page 4)
“Informasi
adalah bla.. bla.. bla..” jawab gue bangga.
“Ok.
Nah, jadi Sistem Infomasi itu apa?” tanyanya lagi dengan mimik muka serius.
“Aha!” dalam hati gue bersorak bergembira. Tanpa sadar muka gue
berubah sumringah berlebihan. Mata membesar, mulut menganga, hidung kembang
kempis.
“Enggak
jadi!” tiba-tiba dia berhenti bertanya dengan muka jutek.
Muka
gue yang sedang berbunga-bunga untuk menjawab pertanyaan yang sudah gue hapal
dari rumah, otomatis layu.
“Beng,
kau curang. Pasti sudah tanya sama teman tentang pertanyaan Bapak ya?!”
Tuduhnya penuh dengan kecurigaan terhadap mahasiswa cute kayak gue. Lafalan mantra gue terhenti.
Muka
gue polos. Tanpa ekspresi gue menggeleng lemah.
Glek!
Gue menelan ludah. Mantra gue lanjutin lagi.
“Ganti
pertanyaan,”
“B-boleh
pak” respon gue pasrah.
“Kau
yang perempuan sendirian waktu ke Malaysia itu bukan?”
“Iya
pak”
“Saat
studi banding itu, ya kan?”
“Bener
pak”
“Nah,
waktu itu beli apa aja di pasar malemnya”
Gue
jedotin kepala. Dosen jedotin kepalanya ke meja. Gue diem. Dia diem. Ruangan hening
satu abad.
Selama satu abad gue menikah dengan pangeran gue sekaligus punya anak lucu-lucu dan hidup bahagia selama-lamanya.
***
Enggak
terasa satu abad berlalu. Judul gue akhirnya diterima juga walaupun dilewati
dengan pertanyaan-pertanyaan konyol. Selesai melewati tahap awal pengajuan
judul gue langsung minta persetujuan kajur.
Gue
berjalan pelan keluar dari ruangan. Lalu menelusuri lorong-lorong kampus ke
ruangan kajur. Hati gue lompat-lompat dan balap karung. Gue keder kalo sudah
berhadapan langsung di depan muka kajur.
Kuliah: Eksperimen Mimpi (Page 3)
Kita
berdua melakukan gerakan slow motion.
Senyum. Lalu sumringah.
Semua
adegan film detektif-detektifan kesukaan gue tiba-tiba muncul di ruangan ini.
Bapak di hadapan gue tiba-tiba berubah jadi agen rahasia yang manggil gue untuk
memberikan misi rahasia.
“Bengal!”
teriaknya tegas.
“Yes,
Sir!” jawab gue enggak mau kalah tegas.
“Gimana
judul skripsinya? Sudah siap di tanya-tanya belom? Sudah siap semua termasuk
konskuensi dari judul yang diambil? Dan apakah juga sudah siap untuk
mempertanggung jawabkannya dikemudian hari?” tanyanya seperti rentetan senjata
yang panjang.
“Siap,
pak!” jawab gue antusias sambil [tetap] baca mantra.
Pintu
ruangan tertutup. Brak!
Wajah
gue berubah pasi. Mantra gue berhenti dan napas gue tercekat di tenggorokkan.
Berhubung
gue jurusan teknik informatika, gue merubah setting
adegan dari yang tadinya film detektif-detektifan menjadi film Doraemon *Loh?
“Beng,
siap dengan pertanyaan Bapak dari hasil paparan judul yang kau ambil?!” katanya
dengan logat Palembang kental.
“S-siaaap,
pak!”
“Ok,
pertanyaan pertama. Berapa umur bapak? Coba tebak?! Anak bapak ada dua. Istri
bapak alhamdulilah masih satu. Lalu kenapa kau ambil judul ini?”
Gue
garuk-garuk kepala. Gue garuk-garuk paper
berisi judul cadangan ke betis gue. Gue garuk-garuk jidat. Gue garuk-garuk
dinding kampus. Gue garuk muka dosennya.
Gue diem. Dosennya diem.
“Pak,”
muka gue protes.
“Oh,
hahahhahhaa” *tepok jidat*
“Pakkk,”
muka gue makin protes sambil bawa-bawa baleho kayak mahasiswa demo.
“Ok.
Hemm,” mukanya serius.
“Apa
itu sistem?” lanjutnya dengan sikap bijaksana
“Bla..
bla.. bla..” jawab gue lancar. Dalam hati gue “Asyeeeekk, sudah hapal. Uhui!”
“Umm,
pertanyaan kedua. Informasi itu definisinya apa?”
Kuliah: Eksperimen Mimpi (Page 2)
Dahi
Bokap menggernyit. Dalam hati bokap pasti bilang: “Anak gue kenapraaa, Tuhan?
Mukanya biru-biru sambil komat-kamit di dalem mobil gue?!”
Gue
sampe juga di kampus. Kampus yang dulunya membuat gue menginginkannya melebih
apapun. Gue pengen duduk di kampus. Elus-elus dinding kampus. Peluk-peluk
dinding kampus sampe mampus. Tapi sekarang?!
Jangan
tanya. Perasaan gue sama kampus udah berubah seiring waktu. Persis kayak
lagunya Rio Febrian “Jenuuuuhhhh,” sambil *Lo. Bisa berpura-pura pingsan*
Sebenarnya,
bukan karena jenuh menjabat sebagai mahasiswi tingkat atas. Tapi, sekarang
emang sudah waktunya mengajukan judul. Syarat SKS sudah. Syarat kerja praktek
udah. Dan saatnya beraksi sampai tetes darah penghabisan untuk perjuangan satu
ini.
Ibaratnya,
kalau lo belum benar-benar merasakan jatuh bangunnya bikin skripsi. Lo belum
layak disebut sebagai seorang mahasiswa.
Triiiiiiiiitt!
Rem mobil bokap berderit. Mobil berhenti tepat di depan kampus dan gue merasa
benar-benar membutuhkan tabung oksigen sekarang juga. Deg-deg’an campur sesak
napas dadakan merupakan perpaduan panic
attack yang sangat menyiksa batin.
Pikiran
gue melayang kemana-mana. Antara wajah kajur ke tempat belanja. Balik ke tempat
belanja dan wajah kajur. Antara tempat wajah ke belanja kajur. Aduh, saat stres
begini bawaan malah pengin belanja gila-gila’an >,<
“Ayah,
doain ya! Semoga judul untuk skripsi hari ini diterima. Wajah kajurnya bikin
mau belanja Yah,” Teriak gue pamitan sambil menutup pintu mobil menghambur
menyapa satpam kampus. Muka bokap bengong.
“Hai,
Pak.” Kata gue semangat, padahal jantung udah lepas-pasang sejak di perjalanan.
Pak satpamnya cuma memberi senyum sehangat martabak manis di kantin. Sudah itu
lanjut bengong lagi. *Lah?!
Akhirnya
gue sampai di depan ruangan pembimbing akademik gue. Napas gue masih
ngos-ngosan. Dan mengetuk pintu pelan-pelan sambil baca mantra.
Tok..
Tok.. Tok..
“Silahkan,”
kata suara dari dalam ruangan.
Gue
masuk dan menyisir keadaan ruangan. Semua tampak aman terkendali. Dan tanpa
canggung gue melangkah masuk sambil senyum selebar lima jari.
“Loh,
SiBengal?” seru si dosen sumringah dari balik Koran yang menutupi wajahnya
tadi.
“Loh,
bapaakk?!” teriak gue enggak kalah girang.
Langganan:
Postingan (Atom)
